Tampilkan postingan dengan label Nyongkolan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nyongkolan. Tampilkan semua postingan

20 Des 2011

TRADISI NYONGKOLAN DAN PENDIDIKAN KARAKTER

Mengutip pendapat dari H. Lalu Lukman di dalam bukunya Tata Budaya Adat Sasak di Lombok mengenai adat istiadat, beliau mengatakan “Timbulnya adat dalam kebudayaan adalah dari kebiasaan sehari-hari. Menjadi tradisi atau teradat serta didukung oleh falsafah yang sangat menguntungkan bagi para penganutnya dalam perkembangannya. Ia mengalami sentuhan dari lingkungan sekitarnya, ditambah lagi masuknya aliran keyakinan, yaitu agama yang mula-mula hanya merupakan pengaruh, tapi kemudian akan menjadi penunjang yang kuat dan akan menjadi sendi adat, yang tidak dapat dipisahkan. Proses yang demikian inilah yang dialami oleh masyarakat sasak didalam perkembangannya.”

16 Des 2011

25 Persen Penduduk Lombok Barat masih Miskin


25 Persen Penduduk Lombok Barat masih Miskin: Lombok Barat [Sasak.Org] Bupati Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, H Zaini Arony mengatakan 25 persen dari 600 ribu jiwa penduduk di daerah ini masih miskin.

'Jumlah penduduk miskin tersebut menyebar pada 10 kecamatan, namun sebagian besar berada di Kecamatan Gunung Sari dan Sekotong sebagai daerah pesisir dan pedesaan,' katanya di Giri Menang, Minggu (12/9). Menurutnya, jika hal ini tidak segera ditangani dengan serius akan berdampak pada keamanan, ketertiban masyarakat dan tingkat kriminalitas.

Karena itu, kata dia, mulai 2011 Pemerintah Kabupaten Lombok Barat telah menyiapkan program penanganan kemiskinan melalui beberapa upya peningkatan ekonomi kerakyatan. 'Salah satunya pemberian bantuan sosial ekonomi produktif, dan sektor informal seperti pedagang bakulan serta pedagang kaki lima (PKL), begitu juga dengan program pemberdayaan masyarakat yang akan diarahkan ke pedesaan,' katanya.

Ia berharap dengan adanya perhatian khusus dari Pemerintah Kabupaten Lombok Barat tersebut, secara bertahap mampu mengurangi angka kemiskinan di daerah ini. Menurut bupati, tingginya angka kemiskinan itu juga membawa konsekuensi penyandang angka buta huruf di daerah ini yang mencapai 17 persen dari total 600 ribu jiwa jumlah penduduk.

'Untuk itu pemerintah daerah saat ini fokus pada upaya memberantas kebodohaan sekaligus kemiskinan, sebab kemiskinan dan kebodohan berdampak besar terhadap keamanan di daerah ini,' katanya. Ia juga berharap masyarakat membantu pemerintah dalam memerangi dua hal fundamental yakni kebodohan dan kemiskinan di daerah ini, artinya semua warga Lombok Barat ikut berperan dalam membangun daerah ini. (Ant/vg/OL-05/MediaIndonesia)

15 Des 2011

Sitemap


28 Apr 2011

Nyongkolan


Nyongkolan, kata yang dipilih sebagai judul tulisan ini, adalah salah satu kosa kata dalam bahasa Sasak, bahasa yang dipakai oleh suku Sasak. Suku Sasak tidak lain merupakan penduduk asli Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat.  Istilah nyongkolan itu mewakili kegiatan yang berupa prosesi pengiringan sepasang pengantin dalam  rangkaian acara merarik atau dalam bahasa Indonesianya sama dengan ‘menikah’.
Menikah yang disebut dengan merariq dalam budaya suku Sasak di Pulau Lombok memiliki tradisi berbeda dengan suku-suku lain di Nusantara. Sedikit menyimpang dengan topik, hal itu sama dengan tradisi pinang-meminang di kalangan orang-orang minangkabau yang juga sedikit berbeda. Perlu diketahui juga di Lamongan, Jawa Timur, juga memiliki tradisi perempuan melamar laki-laki (mungkin seiring kemajuan jaman, yang di Minangkabau dan Lamongan mungkin sudah mengalami pergeseran. Kembali lagi ke topik. Perbedaan prosesi itu terletak pada acara melamar, terutama. Kalau sebagai patokan adalah mayarakat Jawa yang memiliki serangkaian acara dari meminang sampai kepada pesta pernikahan, khusus mengenai melamar ini dalam tradisi masyarakat Sasak tidak berlaku. Pria Sasak tidak meminang calon  istrinya, melainkan melarikan.
Melarikan calon istri (pacar) dilakukan atas kesepakatan pasangan tersebut dan tanpa sepengetahuan kedua orang tua si gadis yang akan dilarikan. Selama dibawa lari si gadis harus dititipkan kepada salah satu keluarga si perjaka. Dan, jangan dibayangkan dalam proses “pelarian” ini mereka bebas melakukan apa saja. Setelah sehari semalam, Pihak keluarga laki-laki datang ke pihak keluarga perempuan yang dalam hal ini diwakili oleh Kepala dusun dan tokoh adat. Pemberitahuan ini disebut dengan “Sejati Selabar”. Setelah proses sejati selabar ini barulah dibicarakan masalah adat yaitu berapa mahar dan seserahan yang harus diberikan, jika sudah disepakati maka tinggal menentukan hari kapan proses akad nikah dan begawe (resepsi pernikahan) bisa dilaksanakan.
Setelah tahap itu, barulah digelar acara begawe di rumah mempelai laki-laki. Setelah prosesi begawe ini selesai, maka dilaksanakan proses nyongkolan yang merupakan  akhir dari prosesi kegiatan adat merariq ini. Makna dari nyongkolan ini sebagai bentuk pemberitahuan kepada masyarakat luar bahwa lelaki dan perempuan ini sekarang sudah ada yang punya.
Prosesi nyongkolan ini dilakukan dengan berjalan mengiringi pengantin dari rumah pengantin pria menuju rumah pengantin wanita. Pengantin ini diiringi oleh para teruna (pemuda) dan dedara (gadis), yang kalau kita lihat seperti iring-iringan raja dan ratu. Nyongkolan ini juga diiringi oleh kesenian Gendang beleq atau gamelan yang akan ditabuh dari awal perjalanan nyongkolan sampai tiba di rumah pengantin wanita. Sesampainya dirumah pengantin wanita, maka berakhirlah prosesi nyongkolan ini.  Unik bukan tradisi suku sasak ini!

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Free Web Hosting